Senin, 01 Agustus 2011

Scorpio fairing ne..mantap


Yamaha Scorpio Z, Pilih Baju Pabrikan
Description: http://www.otomotifnet.com/spaw/uploads/image/Kanal%20MOTOR/Modifikasi/2011/03-Maret/20110314Scorpio.jpg
Asri Celebes dari Yamaha Riders Club Sulawesi Selatan kepingin tampilan Yamaha Scorpio jadi berfairing. Namun enggak mau meng­andalkan baju buatan modifikator lokal. Tapi, Asri lebih memilih fairing jadi.

Pilihannya baju Kawasaki Ninja 150RR dipakai untuk Scorpio tunggang­an Asri. Artinya, Scorpio dijepit Ninja. Pemasangannya dipercayakan ke Andra Modified, Jl. Landak, Makassar.
Description: http://www.otomotifnet.com/spaw/uploads/image/Kanal%20MOTOR/Modifikasi/2011/03-Maret/20110314Scorpio2.jpg
Cukup dua braket di depan
“Ada bedanya fairing buatan modifikator dibanding buatan pabrik,” jelas Asri yang aslinya dari Sengkang, Sulawesi Selatan. Sengkang 200 km dari Makassar, kota Sulawesi Selatan.

Alasan masuk akal Asri kenapa lebih memilih jubah Ninja 150RR dibanding bikin dari O dengan fiber. Kelebihan bisa dilihat langsung. Pakai fairing Ninja 150RR bikin Scorpio jadi lebih kompak.

Baju alias fairing buatan pabrik sing ada lawan dari buatan rumahan atau home industry. Paling jelas tingkat fleksibelitas. Jubah buatan pabrikan lebih lentur, tapi tahan lama.

Paling sederhana pengujiannya waktu fairing dipasang. Baju buatan pabrik lebih aman saat baut fairing dikencangkan ke braket. Sedikit risiko retak di bagian sisi lubang baut fairing. 

Berbeda kalau baju buatan sendiri. Mengandalkan fiber dan sering dengan dempul yang tebal. Bukan cuma jauh lebih berat, tapi juga waktu baut baju dikencangkan ke braket sisi lubang baut retak. Jadinya fairing bergetar saat motor dibawa rolling thunder.  

Kelebihan yang lain pakai baju buatan pabrik ada tuh. “Pemasangannya pun enggak susah,” ungkap Asri yang sekarang jadi enterprenuer di Makassar.

Ninja 150RR asli buatan pabrik enggak butuh braket banyak waktu dipakai ke Scorpio-Z. Cukup 2 braket baru di depan untuk kedok lampu. Pegangan kedok lampu dipasang di bawah segititiga bawah.

Bagian baju kanan-kiri mengandalkan pegangan asli bawaan Ninja 150RR. Posisi pegangan fairing kanan-kiri diagonal, dari bawah tangki paling depan sampai ke belakang.
Description: http://www.otomotifnet.com/spaw/uploads/image/Kanal%20MOTOR/Modifikasi/2011/03-Maret/20110314Scorpio1.jpg
Dilepas sama knalpot kompetisi
Pegangan  fairing kanan-kiri dibuatkan lubang pada braket kedok lampu sampai subframe di bawah tangki. “Pengerjaannya juga lebih cepat,” kata Asri yang berumur 25 tahun.

Stabil Dipakai Roling Thunder

Kelebihan baju asli bawaan pabrik akan terasa waktu dipakai jalan jauh. Sengkang ke Makassar berjarak 200 km. Meski Yamaha Scorpio sudah berbaju Kawasaki Ninja 150RR enggak ada problem besar waktu digas jarak jauh. Gas teruuuusss!

"Motor tetap stabil. Enggak ada terasa efek yang besar waktu nikung. Malah, kok jadi lebih stabil ya?" heran Asri yang murah senyum karena baju Ninja 150RR bikin tambah cool tunggangannya.

Stabil atau enggak mungkin saja bukan karena pakai fairing Ninja 150RR. Tapi, ada perubahan yang bisa berdampak ke stabilitas dengan mengubah profil ban. Itu karena ban depan-belakang sudah diganti pakai tapak yang lebih lebar dibanding standar. Bisa jadi!  (motorplus.otomotifnet.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Bridgestone BT 120/60-17
Ban belakang : Bridgestone BT 160/70-17
Knalpot  : Yoshimura
Pelek depan : Vrossi 3,5x17
Pelek belakang : Vrossi 4,5x17

Sabtu, 23 Juli 2011

Scorpio keren ne..jadi motorcross

Modif Yamaha Scorpio, Menjelma Jadi YZF 450 Banget!

Kalau diajak ngobrol soal supermoto, dr. Rudy Cahyono ini begitu antusias dan semangat banget. Semua hal berbau supermoto hafal di luar kepala. Gak heran jika Rudy ini menjadi admin sekaligus pengelola website yang mengupas tentang supermoto. Yakni http://www.supermotoindonesia.com/.

Untuk melambangkan kecintaannya terhadap supermoto, dia rombak habis Yamaha Scorpio kendaraan sehari-harinya. Konsepnya keukeh meniru model Yamaha YZF-450 Supermoto.

"Selain memang suka dengan tampang YZF-450, juga menyesuaikan basis motor yang saya miliki. Biar konsep modifikasinya tidak melenceng dan mereknya sesuai, yakni Yamaha," bilang anggota ABRI berpangkat Kapten Laut ini.

Dominasi pengerjaan memang terjadi di sektor rangka. Untuk mendapatkan wheelbase alias jarak sumbu roda seperti pada YZF-450 yang berukuran 147 cm ini, Rudy melakukan perkawinan dua rangka. Yakni, rangka bawaan Scorpio dengan milik YZF-450 orisinal.

"Rangka asli YZF-450 terbitan tahun 2004 ini hasil perburuan saya pada beberapa gerai dan penjual atribut motor SE di Indonesia," tambahnya.

Rudy memperkosa habis-habisan rangka asli Scorpio. Pria berkacamata minus ini hanya menyisakan down tube alias rangka bagian bawah. Kebetulan di bagian ini juga terdapat nomor rangka, sekalian saja biar tidak menyalahi aturan down tube ini dipertahankan. "Selanjutnya down tube digabung rangka YZ. Hasilnya semua ukuran yang diinginkan langsung didapat dari hasil penggabungan dua rangka ini," bebernya.

Dengan demikian sudut rake langsung berubah menjadi 27º. Dan untuk jarak mesin bawah dengan tanah diperoleh angka 30 cm. Setelah dipasang pelek 17 inci dan dibalut ban Continental 120/70-17 untuk depan dan 180/55-17 sektor belakang seat height yang diinginkan yakni 90 cm bisa tercapai.
Rudy banyak mengalami dilema saat pemasangan swing arm. Pria tinggal di komplek AL, Kenjeran, Surabaya ini sebenarnya sudah mengaplikasi arm milik YZ-450 SE. Padahal Rudy akan memasang pelek belakang yang memiliki lebar 5 inci. Tentu tidak akan muat jika dipaksakan mengakomodir pelek itu.

Keputusan berani langsung diambil. Arm ini dipaksa agar bisa lebih renggang. "Caranya dengan dipanaskan las. Saat dalam kondisi panas inilah direnggang sedikit demi sedikit hingga memiliki lebar seperti yang diinginkan. Ini merupakan pengerjaan trial and error," bilangnya terus terang.

Pada saat finishing, Rudy juga ikut menambahkan motif yang meniru YZF limited edition dengan corak dan grafis didominasi warna kuning. Alhasil emang mirip, Bro!

Upgrade Mesin

Karena bodi sudah berat, performa mesin perlu dinaikkan kapasitasnya. Tidak tanggung, mesin Scorpio yang berkapasitas 223 cc ini langsung dibore up hingga naik sampai 360 cc. Rudy sudah menjejalkan piston mobil milik Honda Accord Maestro. 

Lalu untuk saluran buang, sudah dibuatkan leher knalpot baru. “Baru kemudian diakhiri silencer KTM 450," bangga Rudy. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
 Pelek depan: TK 3,50x17
Pelek belakang: TK 5,00x17
Sok depan: Yamaha YZF 250
Sok belakang: Yamaha YZF 250

Yamaha Scorpio, Siap Mematuk Lawan..motor plus juli

Modifikasi Yamaha Scorpio 2005 (Cilacap)

Yamaha Scorpio, Siap Mematuk Lawan


Secara konstruksi, Yamaha Scorpio memiliki beberapa keunggulan agar sesuai dengan keinginan konsumen yang suka dengan konsep power responsif. Contohnya mesin 225 cc torsi kuat dan handling baik dengan rangka berwheelbase pendek.

"Cuma sayangnya bodi masih biasa aja. Kurang bagus untuk nampang. Makanya saya ubah agar siap mematuk. Kan Scorpio berarti kalajengking yang punya buntut bisa mematuk lawan. Maksudnya untuk mematuk lawan di ajang contezt modifikasi," buka Suripto dari Ripto's Custom Bike (RCB), Purwokerto.

Ubahan bodi jadi super penting. Motor milik Bowo yang bekerja di Pertamina, Cilacap, ini dibuat dan disiapkan untuk beradu di ajang contezt. Modifikator beken disapa Ripto ini merangkai pola bodi dengan konsep street ighter ala West Jateng Style alias WJS.

Makanya, modifikator kucil alias kurus kecil ini potong habis sasis belakang. Maksudnya, dipotong dari pangkal dudukan sasis di belakang as lengan ayun. Sebab Ripto membuat konstruksi baru agar buntut lebih pendek dan simpel.

Sasis bagian atas center back bone juga dipangkas. Gantinya, "Memakai pipa 22,5 mm sebagai rangka baru. Fungsinya cuma sebagai dudukan jok depan. Sementara dudukan bawah sengaja digeser rada naik agar tidak terlihat menumpuk antara bodi dan swing arm. Memiliki jarak namun tetap terlihat dinamis," cuap Ripto yang bikin gerai di Jl. Kutaliman, RT 1/2, Kedung Banteng, Purwokerto ini.

Makanya rangka dengan konstruksi baru lebih simpel. Dudukan ujung bodi belakang cuma pakai braket kecil. Olahan bodinya, Ripto mengacu pada aplikasi konsep Bulldog. Berbuntut kecil dengan badan bagian depan besar. Bagian awal olahan bodi fokus pada dimensi tangki.

Untuk urusan bentuk tangki, Ripto hanya mengukur dimensi tempat duduk, dibuat dengan tinggi sekitar 70 cm dari atas tanah. Itu sesuai postur tubuh Bowo yang sedang-sedang saja.

Terlihat besar memang, namun jika ditengok dari atas baru ketahuan kalau dimensi tangki sebenarnya memang kecil. "Sengaja dibuat pipih pada bagian belakang, agar enak dikempit jika dipakai riding. Terlihat besar sebab saya bikin sayap tangki lebar dengan desain menyatu tangki. Namun itu semua knock down, bisa dicopot kok," sebut modifikator yang gak pernah sepi order ini.

Finishing, keseluruhan bodi dikelir candy tone hitam, hijau dan oranye glitter agar memukau juri contezt. Pada bagian ini penggarapan diserahkan ke Upenk dari Jl. Sulawesi No. 16, Cilacap. (motorplus-online.com)

Kaki-Kaki Spesial

Olahan bodi besar tentunya disesuaikan aplikasi roda besar. Untuk bagian ini Ripto comot satu set kaki-kaki dari Suzuki Hayabusa. Lengkap mulai pelek, sokbreker dan peranti pengereman. Minim kendala ditemui, sebab bagian depan cuma ada beberapa penyesuaian saja.

Contohnya dudukan komstir yang perlu diatur ulang. "Juga sok belakang bawaan Hayabusa gak bisa dipasang. Sebab terlalu panjang. Jalan keluarnya pakai sok Scorpio asli. Cuma konstruksi unitrack masih dipakai, sehingga rebound tetap nyaman," yakin Ripto yang mengubah dudukan atas sok belakang dengan pelat 5 mm ini.

Delta box juga serius digarap. Bukan sebagai ornamen pelengkap semata. Desain juga sudah disesuaikan dengan sisi dinamis bentuk bodi yang merupakan gabungan desain menyiku dan lengkungan halus.

Pada bagian bawahnya memiliki lengkung dinamis dengan sambungan antar bodi rapat, sehingga terlihat rapi dan halus. Hebat..

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Swallow 120/70-17
Ban belakang : Pirelli 190/55-17
Swing arm : Hayabusa
Sok depan : Hayabusa
Setang : Top Secret
Knaplot : Yoshimura

mofikasi Scorpio keren dari motor plus bulan Mei

Yamaha Scorpio 2007, Reptil Susah Diprediksi

Spesies binatang reptil memang tergolong unik. Sifatnya diam, susah ditebak perawakannya. Entah jinak atau liar. Persis seperti tunggangan milik Dewa Aditya Prana yang warga Kukusan, Depok, Jawa Barat. Memiliki bodi besar, namun bertampang kalem. Agak susah diprediksi.

Mengusung tema streetfighter, Scorpio ini didukung part yang juga besar. Bisa dengan limbah moge atau customized. Bicara besar sudah tentu kompak nih. Itu karena motor ini juga ditangani builder yang juga berbadan besar. Tentu sudah punya nama besar pula.

"Untuk sok depan pakai punya Aprilia RS 125. Dengan tipe upside down. Selain tampilan pas, juga nyaman ketimbang sok standar," kata Wardoyo dari Gandul 2Wheel Custom (G2C) di Jl. Gandul Krukut Ambara, Cinere, Depok.

Kalau biasanya Wardoyo senang menanggalkan sasis asli untuk motor-motor garapannya, ini kali sasis asli pabrik tetap dipertahankan. "Malah tidak dipotong sama sekali. Hanya ditutup dengan pelat galvanis 0,8 mm.
Modelnya masih sesuai tematis streetfighter. Tapi, lebih lebar karena harus mengimbangi desain tangki yang juga sudah besar," lanjut builder ramah ini. Kondom sasis gaya deltabox ini memang membuat bagian tengah tampil lebih gahar.

Lengan ayun kena rombak juga. Pas-tinya kena sedikit ubahan. Bagian tengah lengan ayun standar dipotong. Dengan tujuan untuk melebarkan lengan ayun. Supaya masuk ban ukuran yang lebih besar.

Begitu juga bentuknya yang tidak luput dari perhatian sang modifikator. Se- perti penambahan ornamen mirip tanduk di bagian atas lengan ayun. Berikut sepatbor yang jadi satu dengan lengan ayun custom. Desain seperti ini memang sudah umum diterapkan pada moge.

Tameng lampu depan sangat tidak diduga tampilannya. "Lampu pakai punya Yamaha Jupiter-Z. Tapi, ya harus dicustom ulang. Sementara batoknya bikin sendiri dari pelat galvanis. Tujuannya supaya lebih beda dari biasanya karena tidak single lamp. Dengan begitu, tampang motor jadi unik dan juga sedikit kalem," yakin Wardoyo.

Pantas dipanggil reptil. (motorplus-online.com)


Penulis : Adib | Teks Editor : Nurfil | Foto : Adib

Modifikasi Scorpio dari Motor Plus

Modif Yamaha Scorpio 2007, Hybrid Coretan Tangan

Desain motor masa depan banyak dijadikan acuan modifikasi. Seperti desain yang diadopsi dari kendaraan di film Transformers. Umumnya memang mengacu ke arah robotik dan bernuansa hi tech atau hybrid.

Pada edisi ini MOTOR Plus kembali menyodorkan galeri modifikasi robotik hasil kreasi modifikator dari berbagai daerah. Lewat ubahan ini mereka menuangkan seluruh ide yang semula hanya khayalan dan akhirnya mampu en skases diwujudkan. Meski basicnya bukan dari motor baru, namun karya mereka patut diapresiasi.

Bengkel modifikasi G2C bisa dibilang sudah terbiasa menggarap motor konsep. Makanya, langsung klop kala Reindra menyodorkan gambar motor konsep IZH Hybrid hasil coretan Igor Chak from Rusia. Pemilik Yamaha Scorpio ini juga minta dibuatkan modifikasi yang enggak pasaran dan kental nuansa besutan masa depan itu.

“Kebetulan sudah lama punya konsep desain yang disodorkan, tapi belum ada customer tertarik. Sampai akhirnya Rendra bawa desain dan kami langsung sepakat,”  sebut Wardoyo, bos G2C yang buka bengkel di Gandul, Cinere, Depok.

Tapi, namanya juga baru coretan tangan alias desain, enggak gampang untuk merealisasikan dalam sosok sebuah motor. “Untungnya mengandalkan pelat, jadi lebih mudah dibentuk meski memiliki sudut ekstrem,” lanjut Wardoyo yang bukan bermakna warung doyong.

Mulai dari desain tangki dan cover bodi samping, seluruhnya dibuat semirip mungkin dengan konsep IZH Hybrid. “Dibentuk mengandalkan pelat 0,8 mm, jadi enggak terlalu berat,” urai Wardoyo.

Untuk memudahkan proses pembuatan bodi sebelum pelat dipotong, terlebih dahulu dibuatkan mal atau pola pakai kertas karton. “Potongan mal karton ini yang membuat bentuk yang diinginkan bisa mirip dan dimensi yang diinginkan juga sesuai Yamaha Scorpio,” jelas builder asli Solo, Jawa Tengah.

Desain paling unik pada motor ini ada pada suspensi depan. Itu lantaran Igor Chak mengambil ide dari motor IZH 1 yang diproduksi 1929. Jadi, modelnya seperti sokbreker depan motor jadul.

Untuk meyerupainya bagian suspensi Scorpio standar ditutup kondom pelat dan diselipkan lampu proyektor pada bagian kanan dan kiri. “Ini yang bikin areal depan motor jadi tampak terlihat lebih lebar,” lanjut Wardoyo yang bongsor ini.

Biar bagian bawah mesin lebih berisi, juga ikut dipasang engine guard dengan desain ciamik. Modelnya hampir menutup bagian bak mesin bawah. "Kalau dilihat sekilas, desain seperti menyatu dengan pemasangan dua buah knalpot," lanjut Wardoyo yang mendesain silencer knalpot berbentuk persegi sesuai model aslinya.
Perbedaan lain dengan konsep IZH terdapat pada suspensi belakang. Kalau desain aslinya dibuat sok ganda, oleh Wardoyo malah diubah jadi model monosok. Namun bodi belakang tetap sama. Yakni, mengandalkan jok tunggal yang memiliki desain futuristik.

Untuk ubahan lampu belakang, Scorpio ini sudah mengandalkan stop lamp milik Yamaha New Jupiter Z. Meski mengandalkan part motor lokal, namun pemasangan yang pas bikin mika lampu jadi terlihat klop dengan bodi belakang.

Fasilitas sistem navigasi modern juga turut dilengkapi pada ubahan Scorpio ini. Dengan memasang monitor GPS Garmin tipe Nuvi yang ditempel di breket setang.

“Konsep aslinya IZH juga sudah dipasangi perangkat semacam GPS. Jadi saya coba membuat fasilitas yang sama,” timpal Reindra yang juga sudah pasang spidometer digital baru kepunyaan Yamaha Byson. (motorplus-online.com)


DATA MODIFIKASI

 Ban depan : Pirelli 120/60-17
Ban belakang : Battlax 140/70-17
Knalpot  : Custom
Pelek belakang : Custom

Jumat, 22 Juli 2011

Tugas Makalah Sistem Ekonomi Indonesia Hambatan Pembangunan



 
ABSTRACT
Not all countries succeeded in their development program, which resulted in a far gap among high-income economic countries and low income economic countries. Indonesia, belonging to lower middle-income economic countries, is still facing serious problems causing development barriers together with other developing countries. This writing wishes to tell the connections between what are said to be the development barriers with Indonesia’s economic development situation. From studying literatures and data of Indonesia’s realistic conditions the writers are affirmed that the development barriers are indeed obstacles to achieve development goals.
Keywords: Economic Development, Economic Growth, Traditional Agriculture, Population Growth, Unemployment, Human Resources, Capital, Inflation 2
DAFTAR ISI
Abstrak ......................................................................................................... 1
Daftar Isi ......................................................................................................... 2
Kata Pengantar ....................................................................................................... 4
Bab I Pendahuluan ............................................................................................. 5
I.1 Latar belakang ................................................................................. 5
I.2 Masalah ........................................................................................... 5
I.3 Identifikasi Masalah ........................................................................ 5
I.4 Tujuan Makalah .............................................................................. 5
I.5 Hipotesis.......................................................................................... 6
Bab II Landasan Teori......................................................................................... 7
II.1 Teori Pembangunan ........................................................................ 7
II.2 Teori Pendapatan Nasional ............................................................. 8
II.3 Teori Pendapatan Per Kapita........................................................... 8
II.4 Teori Pertanian Tradisional............................................................. 8
II.5 Rumus Menghitung Tingkat Pengangguran ................................... 9
II.6 Teori Laju Pertumbuhan Penduduk................................................. 9
II.7 Teori FDI dan Lngkaran Setan Kemiskinan ................................... 10
Bab III Pembahasan ............................................................................................. 12
III.1 Pertanian Tradisional ...................................................................... 12
III.2 Kekurangan Modal dan Tenaga Ahli .............................................. 18
III.3 Perkembangan Penduduk Pesat....................................................... 29
III.4 Masalah Menciptakan Kesempatan Kerja dan Pengangguran ........ 34
III.5 Inflasi............................................................................................... 40
Bab IV Kesimpulan dan Saran ............................................................................. 46
IV.1 Kesimpulan ..................................................................................... 44 3
IV.2 Saran................................................................................................ 45
Daftar Pustaka ........................................................................................................ 48 4
KATA PENGANTAR
.
Puji syukur dan terimakasih kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Hambatan Pembangunan” dalam mata kuliah Sistem Ekonomi Indonesia ini dengan waktu yang telah ditentukan.
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut mengenai berbagai hambatan-hambatan pembangunan Indonesia, yaitu pertanian tradisional, pengangguran, jumlah penduduk, Sumber Daya Manusia, modal, dan inflasi.
Terlepas dari semua itu, kami selaku penulis juga adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dalam pembuatan makalah ini, baik itu dari segi penulisan, pengertian, pembahasan, maupun penyimpulan. Oleh karena itu, kami meminta dukungan dan pengajaran dari Bapak Satrio Budi Adi, S.E., M.Si. selaku dosen dan pembimbing dari mata kuliah Sistem Ekonomi Indonesia berupa kritik dan saran yang membangun.
Depok, 24 April 2008
Penulis 5
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pemerintah masing-masing negara bertanggung jawab meningkatkan pembangunan ekonomi negaranya untuk menjamin tingkat kemakmuran penduduk negara tersebut yang terindikasi dari pendapatan per kapita. Berdasarkan data pendapatan per kapita, ada negara-negara yang tergolong kaya (high-income economies), berpendapatan menengah (middle-income), dan ada yang tergolong berpendapatan rendah (low income economies), di mana terdapat jurang yang cukup besar di antara negara kaya dan negara berpendapatan rendah. Ternyata, tidak semua usaha untuk membangun negara-negara tersebut menciptakan hasil yang diharapkan. Masih banyak negara berkembang yang menghadapi masalah-masalah yang serius dan menimbulkan hambatan untuk berkembang dengan cepat, termasuk negara kita, Indonesia, yang tergolong berpendapatan menengah yang rendah (lower middle-income).
I.2 Masalah
Indonesia merupakan negara dengan wilayah yang luas memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara yang makmur, namun sayangnya hal itu tidak terjadi. Sebaliknya, Indonesia mengalami masalah-masalah pembangunan yang serius yang tampak nyata menghalangi upaya pembangunan.
I.3 Identifikasi Masalah 6
Apakah masalah-masalah tersebut benar-benar merupakan hambatan yang memperlambat proses pembangunan dan apa sajakah hubungan sebab-akibat yang ditimbulkannya terhadap perlambatan proses pembangunan.
I.4 Tujuan Makalah
Ada 5 tujuan yang ingin diperoleh dalam pembuatan makalah ini, yaitu:
1. untuk mengetahui hubungan pertanian tradisional dengan pembangunan ekonomi Indonesia,
2. untuk mengetahui hubungan pertumbuhan penduduk dengan pembangunan ekonomi Indonesia,
3. untuk mengetahui hubungan tingkat pengangguran dengan pembangunan ekonomi Indonesia,
4. untuk mengetahui hubungan Sumber Daya Manusia dan modal dengan pembangunan ekonomi Indonesia, dan
5. untuk mengetahui hubungan inflasi dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

I.5 Hipotesis
Kami berpendapat bahwa rendahnya tingkat pembangunan ekonomi dan tingkat kemakmuran Indonesia disebabkan oleh beberapa hal yaitu masih tradisionalnya pertanian di Indonesia, pertumbuhan penduduk yang pesat, tingkat pengangguran yang tinggi, rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia dan modal yang dimiliki Indonesia, serta tingginya angka inflasi. 7
BAB II
LANDASAN TEORI
II. 1 Teori Pembangunan
Banyak orang mencampuradukkan penggunaan istilah pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi dalam menerangkan perkembangan ekonomi, padahal mereka digunakan dalam konteks yang berbeda. Pertumbuhan adalah tingkat perkembangan suatu negara, yang diindikasikan dengan bertambah banyaknya jumlah produksi barang/jasa dan diukur melalui pertambahan (atau persentase pertambahan) pendapatan nasional riil. Sedangkan istilah pembangunan ekonomi merupakan upaya meningkatkan kemampuan/kebebasan memilih (increasing the ability dan freedom to choice) dengan mengelola pertumbuhan dan perkembangan perekonomian. Sebagian ahli ekonomi mengartikan istilah ini sebagai berikut: economic development is growth plus change (pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan-perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi1). Sementara konsep pertumbuhan telah dijelaskan, perubahan adalah proses menuju kematangan atau kemajuan yang mencakup:
1 Sadono Sukirno, Makroekonomi, (Jakarta, 2004), 415
perubahan sikap hidup,
perubahan kelembagaan, dan
perubahan struktural (produksi , pengeluaran, dan distribusi).

Pembangunan diharapkan menaikkan tingkat kemakmuran dan taraf hidup masyarakat suatu negara. Sebagai indikator untuk menunjukkan tingkat kemakmuran biasa digunakan data pendapatan per kapita. Data pendapatan 8
nasional tidak digunakan karena berbagai negara memiliki jumlah penduduk yang sangat berbeda. Pendapatan per kapita adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara pada suatu waktu tertentu yang nilainya diperoleh dari membagi nilai Pendapatan Nasional Bruto atau Pendapatan Domestik Bruto pada suatu tahun tertentu dengan jumlah penduduk pada tahun tersebut. Dalam menghitung pendapatan per kapita dapat dilakukan penghitungan berdasarkan harga yang berlaku maupun harga tetap. Data pendapatan per kapita menurut harga yang berlaku perlu dihitung untuk memberi gambaran kemampuan rata-rata penduduk membeli barang dan sebagai bahan perbandingan perbedaan tingkat kemakmuran negara. Namun, untuk menunjukkan perkembangan tingkat kemakmuran suatu negara perlu dihitung pendapatan per kapita pada harga tetap.
II.2 Teori Pendapatan Nasional
Y = C + I + G + (X-M)
Di mana : Y = pendapatan nasional
C = household consumption (konsumsi rumah tangga)
I = investasi
G = government spending (pengeluaran pemerintah)
X = menerima “valas” dari luar
M = memberi “valas” ke luar.
II.3 Teori Pendapatan Per Kapita
Pendapatan per kapita PNB = Pendapatan Nasional Bruto x 100%
Jumlah penduduk
Pendapatan per kapita PDB = Pendapatan Domestik Bruto x 100%
Jumlah penduduk 9
II. 4. Teori Pertanian Tradisional
Kekurangan modal, pengetahuan, infrastruktur pertanian, dan aplikasi teknologi modern menyebabkan produktivitas sektor pertanian sangat rendah dan tingkat pendapatan petani subsisten. Di negara-negara berkembang cara bercocok tanam yang masih tradisional, penggunaan input-input pertanian yang masih meluas, kekurangan infrastruktur pertanian, penggunaan alat-alat pertanian yang sangat sederhana menyebabkan produktivitas di sektor ini masih sangat rendah yang menimbulkan pendapatan yang rendah dan masalah kemiskinan yang masih meluas. Di samping itu, rasio tanah-penduduk yang relatif kecil memperburuk masalah kemiskinan di sektor ini. (Sukirno, 2004: 438-439)
II.5 Rumus Menghitung Tingkat Pengangguran
Tingkat pengangguran = number of people unemployed x 100%
(unemployment rate) labor force
Labor force (angkatan kerja) = jumlah orang yang bekerja + jumlah orang yang tidak bekerja
II.6 Teori Laju Pertumbuhan Penduduk
Penduduk merupakan unsur mendasar dalam kehidupan sebuah negara. Jumlah penduduk dalam dunia ini telah bertumbuh dengan pesatnya, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia. Gill (1983) mengatakan bahwa hal ini dikarenakan adanya revolusi kesehatan yang disokong dengan teknologi yang canggih yang menghasilkan alat-alat kesehatan yang lebih canggih. Alat-alat kesehatan itu digunakan dengan tepat sehingga dapat mengurangi angka kematian. 10
Sementara itu, angka kelahiran tetap, bahkan bertambah karena angka kematian bayi berkurang. Kondisi seperti ini mengakibatkan pertumbuhan penduduk yang pesat.2
2 Richard T. Gill, Ekonomi Pembangunan Dulu dan Sekarang, (Jakarta: Ghalian Indonesia, 1983), 149
3 Sadono Sukirno, Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah, dan Dasar Kebijaksanaan (Jakarta, 1982), 204-205
Penduduk memiliki peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Pertumbuhan penduduk yang pesat dapat menjadi peluang dalam pembangunan ekonomi. Hal ini dikarenakan banyaknya SDM yang merupakan salah satu dari faktor produksi. Selain itu, penduduk juga merupakan tujuan hasil produksi. Jadi pertumbuhan penduduk yang pesat akan mengakibatkan perluasan pasar barang. Namun di samping itu, pertumbuhan penduduk yang pesat juga bisa menjadi hambatan pembangunan ekonomi, khususnya di negara-negara berkembang. Dalam bukunya, Sadono Sukirno menjabarkan ciri-ciri negara berkembang yang mengakibatkan pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadi hambatan dalam pembangunan ekonomi suatu negara adalah:3
1 tingkat pengangguran yang berlebihan,
2 tingkat pendapatan per kapita yang rendah,
3 jaringan pengangkutan yang masih belum sempurna,
4 masih tetap terbatasnya dana untuk penanaman modal, dan
5 terdapatnya kekurangan tenaga terdidik dan usahawan.

Jika penduduk bertambah dengan pesat, SDM yang tersedia memang banyak, namun hal ini justru menyulitkan pemerintah di negara berkembang karena umumnya angka kelahiran yang tinggi terutama dipengaruhi oleh orang-orang yang belum mengetahui dampak buruk dari pertambahan penduduk yang pesat. 11
Penduduk yang ada bukanlah penduduk yang produktif karena berasal dari kalangan yang kurang mampu. Oleh karena itu pemerintah harus berjuang untuk menyediakan bahan makanan pokok, pendidikan, serta lapangan pekerjaan yang lebih banyak juga. Untuk menggambarkan dengan sederhana konsep ini, Gill (1983) mengatakan bahwa lebih banyak tangan yang produktif, namun terdapat pula lebih banyak mulut yang harus diberi makan.4
4 Richard T. Gill, op. cit., 16
II.7 Teori FDI dan Lingkaran Setan Kemiskinan
Masalah yang sering melanda negara-negara berkembang adalah kemiskinan, kurangnya sumber modal, dan kualitas SDM yang terbatas. Keterbatasan modal yang melanda negara-negara tersebut berakar dari lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty). Menurut teori ini, kondisi kemiskinan suatu negara merupakan suatu sistem yang berputar atau tersirkulasi dengan teratur. Ada tiga jenis lingkaran setan yang melanda negara-negara berkembang, low demand, low saving, dan kurangnya SDA dan SDM. Dalam teori lingkaran setan kemiskinan, negara yang miskin sulit untuk membentuk modal dan memilki produktivitas yang rendah yang akhirnya berpengaruh terhadap rendahnya pendapatan riil, low saving, low investment, dan low rate of capital formation. Salah satu yang menjadi hambatan pembentukan modal pada negara-negara berkembang adalah sulitnya investasi.
Foreign Direct Investment (FDI) merupakan pemberian pinjaman atau pembelian kepemilikan perusahaan di luar wilayah negaranya sendiri. FDI terjadi manakala bisnis kita melakukan investasi pada fasilitas dan atau memasarkan suatu produksi di luar negeri. FDI tidak lain merupakan investasi langsung di luar negeri. 12
FDI dipilih dalam kondisi profitabilitas melebihi ekspor maupun lisensi. Dalam teori FDI, menentukan flow FDI dan stock FDI adalah suatu keharusan. Sejumlah pengelolaan FDI selama periode tertentu dimaksudkan sebagai flow FDI, sedangkan stock FDI mengarah kepada keseluruhan nilai akumulasi aset-aset yang dimiliki dan diperoleh dari negara tujuan. Selain itu, dipertimbangkan juga arus FDI yang keluar dari negara serta arus FDI yang masuk ke negara. 13
BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Pertanian Tradisional
Kondisi Sosial Budaya Petani Indonesia
Kurangnya Pengetahuan Petani
40,73% petani di Indonesia hanya berpendidikan sekolah dasar, sementara 4,62% berpendidikan SLTA dan hanya 0,39% yang berpendidikan akademi/universitas. Kelompok yang termasuk tidak berpendidikan (tidak sekolah) dan tidak tamat SD mencapai 47,33%. Data tersebut menunjukkan rendahnya mutu atau kualitas sumber daya manusia yang dimiliki oleh sektor pertanian Indonesia. (Soetrisno, 2006: 4-5)
Kurangnya Pengetahuan Lokal Menyangkut Pertanian
Revolusi Hijau yang diluncurkan pada permulaan 1970-an telah mebuat petani Indonesia melupakan pengetahuan lokal yang menyangkut pertanian dan lebih menggantungkan diri pada paket-paket teknologi pertanian produk industri sehingga menjadi objek permainan harga produk-produk tersebut.
Kurangnya Aplikasi Teknologi Modern
15,1 juta orang atau 76,2% dari jumlah rumah tangga pertanian di Indonesia berusia antara 25-54 sementara 4,2 juta (21,46%) berusia >55. Umur rata-rata petani Indonesia yang cenderung tua sangat berpengaruh terhadap produktivitas sektor pertanian di Indonesia: petani yang berusia tua cenderung sangat konservatif dalam menyikapi perubahan atau inovasi teknologi. Lagipula, petani Indonesia 14
pada umumnya adalah “petani gurem” dan harus mengusahakan pertanian di lingkungan tropis yang penuh risiko seperti banyaknya hama dan tidak menentunya curah hujan, sehingga mereka harus lebih hati-hati dalam menerima inovasi teknologi karena kegagalan berarti penderitaan bagi seluruh keluarga sementara di Indonesia belum terdapat asuransi yang dapat melindungi mereka dari kegagalan. (Soetrisno, 2006: 5)
Tingkat Pendapatan Petani Subsisten; Rasio Tanah-Penduduk Relatif Kecil
Soetrisno (2006) mengungkapkan bahwa dalam sosiologi Barat, terdapat dua konsep petani: peasants dan farmers. Peasants (subsistance farmers) adalah petani yang memiliki lahan sempit dan memanfaatkan sebagian terbesar hasil pertanian yang diperoleh untuk kepentingan mereka sendiri, sementara farmers adalah orang-orang yang hidup dari pertanian dan memanfaatkan sebagian besar hasil pertanian yang diperoleh untuk dijual dan telah akrab dengan pemanfaatan teknologi pertanian modern seperti perbankan. Data di bawah ini menunjukkan bahwa petani Indonesia termasuk peasants atau subsistance farmers.
Di Indonesia, jumlah rumah tangga pertanian didominasi oleh petani yang memunyai luas tanah kurang dari 0,5 ha. (Soetrisno, 2006: 4) Pada 2002, dari 38,4 juta orang miskin di Indonesia, 65,4% di antaranya berasa di pedesaan, dan 53,9% adalah petani. Pada 2003, dari 24,3 juta rumah tangga pertanian yang berbasis lahan, 20,1 juta (82,7%) dapat dikategorikan miskin. Sensus Pertanian 2003 seperti dalam Tabel III.1.1 memberikan gambaran tentang seriusnya masalah kemiskinan dan ketidaksejahteraan petani. Permasalahan kemiskinan di pertanian bertambah serius karena sebagian besar “petani gurem” tersebut berada di Pulau Jawa yang memberi kontribusi >50% terhadap produksi nasional. (Krisnamurthi, 2006) 15
Tabel III.1.1
Perkembangan Rumah Tangga Petani Berdasarkan Sensus Pertanian 2003 1993
2003
Pertambahan
Jumlah Rumah Tangga Pertanian (juta RTP)
20,8
25,4
2,2%/tahun
Jumlah “Petani Gurem” (juta RTP)
10,8
13,7
2,6%/tahun
Porsi “Petani Gurem”
52,7%
56,5%
Porsi “Petani Gurem” di Jawa
69,8%
74,9%







Recent Posts